kamarang.com – Masih hangatnya isu tentang radikalisme dan terorisme di negeri ini terus menjadi perhatian banyak kalangan, terutama para mahasiswa dan aktivis pergerakan.

Kali ini perhatian tersebut datang dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Universitas Siliwangi (Unsil) dengan menggelar diskusi publik yang mengusung tema Pancasila Ditengah Radikalisme dan Terorisme.

Diskusi publik tersebut dilaksanakan di salah satu rumah makan di Jalan BKR, Senin (26/11/2019) sore dan dihadiri sekitar 70 orang dari kalangan santri dan mahasiswa.

Banyugiri Setra, Ketua Umum HMI Komisariat Unsil mengatakan, sengaja mengundang para santri setidaknya memberikan pemahaman kepada mereka (santri.red) untuk saling berdiskusi jangan sampai menjadi korban dari isu – isu yang terkait.

“Karena selama ini isu yang beredar bahwa teror itu berasal dari islam padahal tetoris itu adalah musuh dari semua agama,” terangnya kepada media.

Banyu melanjutkan, target tertinggi dari diskusi ini adalah pembahasan isu radikalisme dan terorisme agar jangan sampai dimulai dari atas tapi harus dari bawah.

Karena menurutnya, dampak yang merasakannya adalah masyarakat dan isu yang berkembang hari ini diliat serta diperbaiki oleh masyarakat.

“Bukan dari kalangan atas yang hanya bisa memberikan pemahaman, tapi pengertian kepada masyarakat dan yang mengerjakan adalah masyarakat,” tuturnya.

Lebih lanjut Banyu menerangkan, yang menjadi permasalahan luas orang bahwa yang meneror adalah mereka yang paham sekali terkait masalah agama.

Mengenai skenario siapa yang memulai radikalisme, Banyu mengatakan, ini bisa dibilang sebuah framing agar umat islam di cap sebagai agama yang intolerans.

“Saya rasa ini sebuah framing, karena tidak diajarkan dalam agama manapun terutama agama islam untuk melakukan hal seperti, menteror dan lainnya. Tidak ada ajaran islam yang menganjurkan untuk melakukan radikalisme,” pungkasnya. (Al-g)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.