HomeEkonomi

Reza, Dedikasikan Masa Mudanya untuk Pertanian

Reza, Dedikasikan Masa Mudanya untuk Pertanian

kamarang.com, Tasikmalaya - Mungkin menurut sebagian kalangan anak muda, Masa muda itu masa yang indah untuk melakukan segala hal mencari jati diri. N

Tergiur Keuntungan Besar dalam Pengadaan BPNT, Perang Dingin antar Suplayer Terjadi
Muncul Cluster Baru Covid 19, Atang : Setiap Hari Kasus Covid 19 di Kabupaten Tasikmalaya Terus Bertambah
Aliansi Ormas dan LSM Kabupaten Tasik Temukan Adanya Pemotongan Gaji Guru Honorer

kamarang.com, Tasikmalaya – Mungkin menurut sebagian kalangan anak muda, Masa muda itu masa yang indah untuk melakukan segala hal mencari jati diri. Namun lain dengan yang dilakukan Reza seorang petani muda asal Kampung Leuwiseeng Desa Sukaherang Kabupaten Tasikmalaya.

Sejak masih duduk dibangku kuliah di STTC Cipasung, Reza Sudah mulai menggeluti pertanian dari mulai ikut pelatihan-pelatihan budidaya pertanian organik selama 100 hari, di karang Widia Cianjur sekitar tahun 2017 hingga fokus menggeluti propesi sebagai usaha tani sekitar tahun 2019 awal sampai sekarang.

Reza mengatakan, Pertama kali bercocok tanam, ia menanam beberapa varietas jenis sayuran seperti cabe, mentimun dan tomat dengan modal nekad sewa lahan garapan dengan Luas lahan sewaan 300 bata atau sama dengan 4200 M2 bersama kelompok tani nya yang dinamai Kelompok Tani naratas.

“Keterkaitan dengan kelompok tani itu hanya wadah dimana untuk sharing tukar informasi mengenai cara untuk pengendalian hama dan penyakit tanam, Karena supaya tanaman produktivitas tetap maksimal tetapi kalau usaha tani dikelola mandiri maka masyarakat harus dilibatkan dalam pekerjaan tersebut karena hampir semua orang petani dan membantu roda perekonomiannya,” terang Reza.

Baru baru ini, Reza telah memanen mentimun. Terakhir panen Selasa (04/08/2020), sekitar 48 karung dari ukuran karung 40Kg, Jadi sekitar 1920 Kg dengan harga Rp.1000/Kg. “Disaat pandemi covid-19 memang terasa harga tidak stabil karena pengiriman barangnya ke pasar Cibitung Jakarta,” tambah Reza.

Ia menerangkan, untuk biaya produski timun sendiri dari mulai pembuatan bedengan, pasang Mulsa, pasang ajir, pupuk, Obat obatan sampai panen sekitar Rp. 36.000.000. “Untuk produktivitas dari 300 bata bisa mencapai 2,1 Ton Bisa jiga Sampai dengan 2,5 Ton Akan Tetapi Kalo harga Rp.1000, jelas rugi tidak akan untung,” terangnya.

Untuk itu, ia berharap kedepan untuk masalah harga mudah mudahan bisa stabil lagi dan kedepan berharap pemerintah bisa mempunyai kebijakan tentang bagi- bagi blok wilayah tanam supaya harga bisa stabil. (Day)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS:
%d blogger menyukai ini: