kamarang.com, Tasikmalaya – Mensikapi pembukaan lokasi wisata Kamandara Mangkubumi Resto Cofee Park, MUI Kelurahan Mangkubumi bergerak cepat mengadakan pertemuan dengan investor dan pengelola Kamandara bertempat di Aula Kelurahan Mangkubumi pada hari selasa 6 Oktober 2020.

Pertemuan tersebut dimediasi oleh Lurah Mangkubumi, Erik dan disaksikan oleh Babinsa, Babinkamtibmas, dan Kasi Trantib Kecamatan Mangkubumi.

Erik, Lurah Mangkubumi mengatakan, dirinya bertindak sebagai mediator antara Para Ulama di MUI dengan pihak investor, pengelola Kamandara Resto Cofee Park.

“Beberapa waktu yang lalu, saya diminta oleh para Ulama untuk memediasi pertemuan dengan investor dan pengelola, dan alhamdulillah hari ini bisa terlaksana dengan baik,” terang Erik.

Sementara itu, KH Zainal Musthofa, Ketua MUI Kel Mangkubumi, mengatakan, pertemuan ini tiada lain sebagai wujud tanggung jawab ulama sebagai Khodimul Ummah (pelayan ummat) dalam ranah saling mengingatkan agar pengelolaan wisata betul betul maslahat dan tidak berdampak buruk terhadap moral ummat.

Adapun KH Muhammad Yan-yan Al Bayani.S.Kom.I., M.Pd, Ketua Komisi Dakwah MUI Kelurahan Mangkubumi, mengatakan, yang menjadi alasan pertemuan ini adalah :

  1. Umat banyak yang bertanya kepada MUI tentang bagaimana konsep pengembangan wisata Kamandara yang dulu lebih dikenal dengan sebutan kolam renang mangkubumi.
  2. Kehawatiran ulama, lokasi wisata menjadi sarana menjamurnya kemaksiyatan
  3. Lokasi wisata yang berada di lingkungan beberapa pondok pesantren.
  4. Mengantisipasi pengembangan wisata yang kontradiksi dengan kearifan lokal kota santri
  5. Di mangkubumi sejak tahun 2016 telah dideklarasikan MANGKUBUMI BERSIH DARI MAKSIYAT.
  6. Mengingat di Tasikmalaya telah ditetapkan Perda Tata Nilai No 7 thn 2014

“Mengingat alasan alasan tersebut, maka dengan dimediasi oleh Lurah dan Muspika, Para Ulama dan pimpinan Pondok Pesantren yang tergabung di MUI dipandang perlu untuk menyampaikan nasihat kepada investor dan pengelola kamandara,” tambah Ustad Yan-Yan.

Sementara Candra Cahyadi, investor kamandara, mengatakan, menyambut baik nasihat yang disampaikan oleh para ulama yang tergabung di MUI.

“Kami berkomitmen untuk menjaganya dengan melakukan pengawasan secara maksimal sehingga Lokasi Wisata yg kami kembangkan sesuai dengan nota kesepahaman yang telah disepakati,” terangnya.

Pertemuan tersebut menghasilkan nota kesepahaman yang ditandatangani oleh kedua belah pihak. Setelah ditanda tangani nota kesepahaman tersebut, MUI akan membentuk team Monitoring & Investigasi yang bertugas mengawasi di lapangan, apakah nota kesepahaman itu dipatuhi atau tidak.

Bila di lapangan ada pelanggaran, maka MUI akan menyampaikan nasihat kembali. Bila nasihat diabaikan maka MUI akan menyampaikan permohonan kepada Pemerintah agar dilakukan pembekuan/pencabutan izin operasional. (Zm)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.