kamarang.com, Tasikmalaya – RUU HIP telah menuai polemik dan kegaduhan. Ketua Umum BERANTAS, Heri Ferianto mengatakan, kemunculannya patut dicurigai sebagai upaya “mendegradasi” Pancasila yang merupakan hasil Konsesus Founding Fathers pada 18 Agustus 1945 lewat sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

“Sekalipun dibungkus dengan nama Haluan Ideologi Pancasila, namun isinya justru menciptakan Norma baru yang bernama Trisila dan Ekasila. Pancasila itu sudah final 18 Agustus 1945. Kalau ada yg ingin menggantinya dengan “mendegradasi” lewat RUU HIP, baik itu Trisila maupun Ekasila, maka itu masuk katagori Makar terhadap Dasar Negara yang sudah final,” terang Heri kepada kamarang.com, Sabtu (20/062020).

Menurutnya, RUU HIP ini telah Men-down grade Pancasila sebagai Falsafah Dasar Negara dan Norma Dasar Negara menjadi Norma Hukum Positif yang dapat dipakai sebagai alat gebuk bagi pihak yang berseberangan.

Atas dasar pertimbangan telah adanya ketentuan yang mengatur tentang kejahatan terhadap keamanan negara dalam KUHP, yang kemudian diatur lebih lanjut tentang kejahatan di bidang ideologi melalui UU No. 27 Tahun 1999 Pasal 107 b, ditambah lagi dengan adanya UU Ormas dan TAP MPR No. VI Tahun 2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa, maka tidak ada lagi urgensi untuk menetapkan suatu UU tentang Haluan Ideologi Pancasila.

“Tentunya kita masih ingat bahwa kita pernah punya haluan Pancasila yang dituangkan dalam TAP MPR NO. II Tahun 1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Tap MPR itu juga sempat dinilai sebagai alat legitimasi Pancasila yang digawangi oleh BP7 dengan Penataran P4 segala tipe gradasi,” tambahnya.

Namun, memasuki era Reformasi, Tap MPR II 1978 dicabut dengan Tap MPR No. XVIII 1998 dan BP7 dibubarkan. Pada Tap MPR XVIII 1998 ditegaskan bahwa Pancasila harus dikembalikan kepada kedudukan dan fungsi pokoknya yaitu sebagai dasar negara. “Jadi, membuat UU Haluan Ideologi Pancasila adalah langkah mundur yang akan mengulangi kesalahan sejarah masa lalu,” pungkasnya. (Day)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.