Oleh

Khatibul Umam

Ketua FORMACA PPS IAIC

Revolusi industri 4.0 mendorong terjadinya disrupsi dalam berbagai bidang yang memberikan tantangan dan peluang, termasuk bagi generasi nahdliyin.

Saat ini kita mengalami dua disrupsi yang luar biasa yaitu bidang teknologi karena revolusi industri 4.0 dan gaya hidup karena adanya perubahan generasi yang menyebabkan perubahan gaya hidup.

Perubahan terjadi begitu cepat akibat disrupsi. Tren perkembangan teknologi juga telah bergeser sehingga perusahaan teknologi digital merajai ekosistem dan ekonomi dunia.

Karenanya perlu perubahan paradigma, pola pikir di era perubahan ini. Sebelum era digital, untukmenjadi pemenang hanya perlu lebih efisien dan produktif.

Namun, untuk saat ini agar bisa memenangkan kompetisi perlu inovasi, kreativitas, serta enterpreneurship.

Kalau saat ini dengan efisien dan produktif hanya bisa untuk bertahan saja, tetapi untuk menang perlu inovasi, kreativitas, dan enterpreneurship.

Oleh sebab itu, dibutuhkan adanya evolusi dalam sistem pendidikan di Indonesia untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul.

Sistem pendidikan menekankan pada aspek  kreativitas, inovasi, dan kewirausahaan. Langkah tersebut diharapkan mampu untuk menghadapai tantangan perubahan zaman.

Istilah revolusi industri 4.0 mungkin masih terdengar asing di telinga masyarakat awam. Bahkan, respons kedua capres yang berbeda kian menimbulkan pertanyaan, seberapa pentingkah isu revolusi industri 4.0 bagi Indonesia saat ini?

Menurut definisi World Economic Forum, revolusi industri 4.0 adalah disrupsi teknologi internet ke dalam proses produksi agar proses pengolahan barang dan jasa bisa lebih efisien, cepat,

dan massal. Hal ini ditandai dengan penggunaan teknologi robotik, rekayasa intelektual, Internet of Things (IoT), nanoteknologi, hingga sistem yang disebut sistem komputasi awan (cloud computing).

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.