kamarang.com, Tasikmalaya – Masyarakat Desa Jayapura Kecamatan Cigalontang Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat kini memiliki sekolah alam yang dinamai Sekolah Alam Binangkit.

Keberadaan sekolah yang didirikan pihak Karang Taruna Desa Jayapura tersebut disambut antusias warga. Hal tersebut dibuktikan dengan sikap masyarakat yang terus membantu dalam pembukaan lahan untuk sekolah alam dengan cara gotong royong membersihkan lahan.

Karang Taruna Desa mempunyai cara sendiri dalam mengenalkan cara menjaga alam, seni dan budaya kepada anak-anak usia dini dengan cara membuka sekolah alam kaulinan lembur yang digelar di alam terbuka dan tanpa biaya alias gratis ini.

Sakola Alam Binangkit mulai dirintis pada bulan Februari lalu, awalnya dari kekompakan karang taruna desa dalam mengolah sampah seiring waktu mulai membuka lahan yaitu sekolah alam.

Namun dampak pandemi Covid-19, sekolah yang digagas karang taruna desa ini vakum. Baru pada awal bulan Juli, kegiatan sekolah alam mulai berjalan fokus ke menggarap lagi.

Kegiatan sekolah alam ini bukan hanya datang dari Desa Jayapura saja, namun dari desa tetangga juga mulai berdatang ikut mengikuti sekolah alam.

Adapun materi belajar seperti seni tari, penyemaian, angklung, dan hydroponik. Dalam peserta didik beragam tingkatan jenjang sekolah, mulai tingkat TK, SD, SMP hingga SMA.

Di Sekolah alam ini, siswa lebih diajarkan tentang kehidupan seperti hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan pencipta dan pentingnya menjaga alam dan nilai-nilai budaya dan kesenian Sunda.

Ketua Karang Taruna Desa Jayapura, Guntur Hermawan, menuturkan, metode pembelajaran yang diberikan lebih kepada riset tentang alam dan apa yang disukai oleh anak. Selain itu, mengarahkan kekreatifan anak, karakter anak, dan kecintaan terhadap lingkungan

Adapun, staf pengajar di sekolah alam ini merupakan anggota karang taruna dan sukarelawan dan cara belajar siswa memilih pembelajaran sesuai potensi yang dimilikinya dan disukainya baik itu terkait kehidupan alam, kebudayaan, maupun kesenian sunda, nyemai pohon, dan menari.

“Berharap membentuk karakter anak menjadi lebih tangguh tahu tentang makna kehidupan dan hubungannya dengan alam dan Allah SWT. Terlebih saat ini dampak dari pandemi Covid libur sekolah, psikologis anak bisa terganggu maka dari itu melalui pendidikan sekolah alam, generasi muda bisa tahu dan memahami tentang kehidupan dan budayanya sendiri” pungkasnya. (Day)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.